Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan

21 November, 2015

MAKALAH BUDIDAYA DURIAN DI DESA PUNGGUR KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT


MAKALAH BUDIDAYA DURIAN DI DESA PUNGGUR KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT


BAB I. PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Desa Punggur merupakan salah satu desa yang terletak di pinggiran kota Pontianak. Potensi yang untuk melakukan budidaya durian di desa ini sangatlaha besar, selain luas lahan yang mendukung masyarakat di desa inipun memiliki kemampuan dalam melakukan budidaya durian.
Dalam melakukan budidaya durian di desa Punggur bukanlah tanpa masalah, banyak sekali masalah yang harus diatasi oleh petani diantaranya masalah tanah yang bereaksi masam karena memang tanah yang tersedia adalah jenis tanah gambut, serangan hama, sistem pengairan yang kurang baik, dan masalah-masalah yang lain.




 DOWNLOAD VERSI MICROSOFT WORD : KLIK DI SINI

B.  Permasalahan
Dalam melakukan budidaya durian di Desa Punggur terdapat beberapa permasalahan, diantaranya :
1.    Serangan hama tupai yang terjadi pada saat pohon durian berbuah. Tupai menyerang buah durian dengan cara memakan buah yang telah masak di atas pohon sehingga mengakibatkan kerugian bagi petani.
2.    Sistem pengaturan air yang kurang baik. Dikarenakan lahan yang digunakan merupakan lahan yang memiliki jenis tanah gambut sehingga tanah kurang mampu menahan air sehingga apabila pada musim hujan akan tejadi banjir dilahan sedangkan pada musim kemarau terjadi kekurangan air.
C.  Tujuan Pengamatan
Tujuan dilakukannya pengamatan ini adalah untuk mengetahui permaslahan yang dihadapi oleh petani dalam melakuka budidaya durian dan memberikan sosusinya.


BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A.  Botani Tanaman Durian

Kingdom                     : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom                : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh
Super Divisi                : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                           : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
 Kelas                          : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas                    : Dilleniidae
Ordo                            : Malvales
Famili                          : Bombacaceae 
Genus                          : Durio
Spesies                        Durio zibethinus Murr
1.    Akar
       Perakaran durian cenderung tumbuh kebawah. Ujung akar terdiri dari atas sel-sel muda yang selalu membelah dan merupakan titik umbuh akar. Sel-sel itu sangat mudah rusak, ujung akar tertutup sel-sel tudung yang terdiri atas sel-sel pelindung. Tutdung ini dinamai tudung akar (calyptras) yang bagian luarnya belendir sehingga dapat menembus tanah. Tudung akar bagian luar cepat rusak, tetapi didalamnya senantiasa tumbuh sel-sel baru. Dibelakang titik tumbuh bagian luar yang berbentuk kulit luar, dibawah kulit luar tersebut terdapat kuli pertama dan ditengah terdapat pusatnya/ empulur (AAK, 1997).

2.    Batang
       Letak titik tumbuh batang terdapat pada bagian ujungnya. Dibelakang titik tumbuh tersebut terdapat bintil-bintil bakal daun dan disebelah atasnya adalah bakal cabang yang juga berupa bintil-bintil batang sesuai dengan pertumbuhan sel-sel tumbuh pada batang. Bintil-bintil ini akan selalu bejauhan letaknya, sebab batang berambah panjang dan besar. Dalam pertumbuhan batang tersebut, sel-sel terbagi beberapa fungsi, yakni di bagian permukaan batang akan timbul sel-sel kulit luar dan dibawahnya merupakan parenkim, yang kelak akan tumbuh ikatan-ikatan pembuluh.
3.    Daun
       Daun durian memiliki jaringan-jaringan organ hamper sama dengan jaringan pada batang, yakni kulit luar, parenkim, dan ikatan pembuluh. Bentuk tangkai daunnya hamper sama dengan batang, begitu pula dengan warnanya. Lembaran dau dapat dianggap sebagai bagian batang yang rata. Bentuk yang demikian ini berfungsi :
a.       Untuk menguap : karena bentuknya rata sehingga permukaannya lebih luas sehingga bidang penguapannya menjadi lebih banyak.
b.      Untuk mengubah peersenyawaan-persenyawaan organik menjadi bahan organic, misalnya gula dan tepung.
4.    Bunga
       Bunga merupakan alat perkembangbiakan secara generative. Alat perkembangbiakan generative ini bentuk dan susunannya berbeda-beda antara jenis tumbuhan yang satu dengan yang lainnya. Bentuk dasar bunga durian adalah rata. Semua bagian bunga duduk sama tinggi diatas dasar bunga, yakni berturut-turut dari luar kedalam, kelopak, tajuk, bunga, benang sari, dan putik. Dalam kkeadaan bakal buah dudu menumpang (superus) sehingga perhiasahan bungaseolah-olah duduk dibagian atas bakal buah (epigynus).
5.    Buah
       Buah durian memiliki sekat buah yang sempurna, berupa sekat asli (septum). Buah durian merupakan buah sejati tunggal karena terjadi dari satu bunga dan satu bakal biji atau lebih. Akan tetapi buah durian dapat pula tersusun dari satu atau banyak dauh buah dengan satu atau banyak ruang sehingga buah durian mempunyai beberapa ruang dan beberapa bakal buah.
6.    Biji
      Biji durian mempunyai susunan yang tidak berbeda dengan bakal biji, tetapi dipergunakan nama-nama yang berlainan untuk bagian-bagian yang sama, misalnya integumentum pada bakal biji, tetapi kalau sudah menjadi biji merupakan kulit biji atau spermodermis.
7.    Daging buah
       Aroma tajam pada buah durian masak disebabkan oleh belerang yang terikat asam butiran dan asam organic yang menguap. Senyaw-senyawa yang paling menusuk adalah propanathiol dan diefilthioeter serta senyawa-senyawa lain yang menentukan rasa enak daging buah durian. Dalam 10 g buah bagian buah durian yang dapat dimakan mengandung kalori 134 kkal, protein 2,5 gram, lemak 3 gram, hidrat arang 16,1 gram, kalsium 7,4 mg, fosfor 44 mg, besi 1,3 mg, vitamin A 135 SI, vitamin B 0,10 mg, vitamin Z 53 mg, air 85 gram (AAK, 1997).

B.  Syarat Tumbuh Tanaman Durian

1.    Iklim
Ø Curah hujan untuk tanaman durian maksimum 3000-3500 mm/tahun dan minimal 1500-3000 mm/tahun. Curah hujan merata sepanjang tahun dengan kemarau 1-2 bulan sebelum berbunga lebih baik daripada hujan terus menerus.
Ø Intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan durian adalah 60-80%. Sewaktu masih kecil (baru ditanam di kebun), tanaman durian tidak tahan terik sinar matahari di musim kemarau, sehingga bibit harus dilindungi/dinaungi.
3) Tanaman durian cocok tumbuh pada suhu rata-rata 20-30 0 C, suhu 15 0 C durian dapat tumbuh tetapi pertumbuhan tidak optimal. Apabila suhu mencapai 35 0 C daun durian akan terbakar.
2.    Media Tanam
Ø Tanaman durian menghendaki tanah yang subur (tanah yang kaya bahan organik). Partikel penyusunan tanah seimbang antara pasir liat dan debu sehingga mudah membentuk remah.
Ø Tanah yang cocok untuk durian adalah jenis tanah grumosol dan andosol. Tanah yang memiliki ciri-ciri warna hitam keabu-abuan kelam, struktur tanah lapisan atas berbutir-butir, sedangkan bagian bawah bergumpal dan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mengikat air.
Ø Derajat keasaman tanah yang dikehendaki tanaman durian adalah (pH) 5-7, dengan pH optimum 6-6,5.
Ø Tanaman durian termasuk tanaman tahunan dengan perakaran dalam sehingga membutuhkan kandungan air tanah dengan kedalam cukup yaitu 50-150 cm dan 150-200 cm. Jika kedalaman air tanah terlalu dangkal/ terlalu dalaman, rasa buah tidak manis atau tanaman akan kekeringan dan atau akarnya busuk akibat selalu tergenang.
3.    Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat untuk bertanam durian tidak boleh lebih dari 800 m dpl. Tetapi ada juga tanaman durian yang cocok ditanam di berbagai ketinggian. Tanah yang berbukit/yang kemiringannya kurang dari 15 kurang praktis daripada lahan yang datar rata.



BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Bibit yang Digunakan

Bibit  durian yang digunakan oleh petani adalah bibit lokal yang diperoleh dengan cara menanam secara langusung biji durian. Menurut petani menggunakan bibit lokal lebih baik dibandingkan menggunakan bibit unggul, alasannya bibit lokal lebih tahan terhadap serangan hama penyakit dan kecaman lingkungan baik banjir ataupun kekeringan. Menurut Aak (1997) bibit yang baik untuk menghasilkan produksi durian yang besar adalah bibit unggul. Bibit unggul dapat diperoleh melalui mencangkok, okulasi, ataupun menyambung.

B.  Keadaan Lahan

Bedasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan di Desa Punggur bahwa pertumbuhan dan hasil buah durian yang dihasilkan cukup baik. Tanaman durian di tanam di lahan gambut yang mempunyai tingkat kemasaman tanah yang tinggi, namun hal tersebut tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman durian walaupun pH sangat rendah. Menurut Aak (1997) tanah yang baik untuk budidaya yang baik adalah tanah yang memiliki pH 6,5-7,0. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman durian memiliki tingkat toleransi yang sangat tinggi terhadap pH tanah sehingga tanaman durian mempunyai potensi yang sangat besar untuk dibudidayakan di Kalimantan Barat yang mempunyai luas lahan gambut mencapai 1,5 juta hektar (Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat, 2011).

C.  Pengaturan Air ( Irigasi dan Drainase)

Fungsi irigasi dan drainase pada kebun durian adalah untuk mengairi tanaman pada musim kemarau dan mengarilkan air yang menggenang pada musim penghujan. Pada lahan gambut pembuatan saluran drainase tidak dapat dibuat terlalu dalam, sebab apabila dibuat terlalu dalam maka air yang terkandung pada lahan gambut tersebut akan keluar semuanya dan hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah (subsiden) sehingga tanaman akan menjadi doyong atau miring. Hal tersebutlah yang menjadi permasalah yang di Desa Punggur. Pembuatan saluran drainase yang dalam mencapai 1,5 meter membuat proses subsiden menjadi lebih cepat sehingga tanaman yang dibudidayakan menjadi miring pertumbuhannya. Selain itu dengan saluran drainase yang dalam membuat air yang terkandung dalam tanah gambut menjadi lebih cepat hilang. Hal ini membuat tanaman menjadi kekurangan air saat musim kemarau dan akan terjadi banjir saat musim hujan datang karena tanah tidak dapat menyerap air sepenuhnya. Hal ini menjadi permasalahan petani. Solusi yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan membuat pintu air agar pada musim kemarau tidak terjadi kekurangan air dan pada musim hujan tidak terjadi banjir.

D.  Serangan Hama dan Penyakit

Salah satu permasalah yang sampai sekarang belum dapat di atasi adalah serangan hama dan penyakit. Serangan penyakit yang sangat merugikan adalah serangan yang terjadi pada saat pembibitan. Menurut Aak (1997) tanaman yang paling mudah terserang penyakit yaitu tanaman yang masih kecil, penyakit dapat menyerang seluruh bagian tanaman durian, misalnya akar, batang, ranting, daun, bunga, pucuk daun, dan buah. Keadaan iklim, kesuburan tanah dan tanaman, kebersihan dan sinar matahari mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangbiakan penyakit.
Selain penyakit, serangan yang hama juga mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Salah satu jenis hama yang mengakibatkan kerugian terbesar adalah serangan hama tupai (Tupaia spp). Tupai menyerang tanaman durian pada saat tanaman memasuk masa berbuah.  Tupai menyerang buah durian yang telah masak, hal ini mengakibatkan produksi buah durian menjadi berkurang. Sosuli yang yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan hama tupai adalah :
1. Cara kultur teknis : Sanitasi kebun, dengan membersihkan sarang dan tempat persembunyian tupai di areal pertanaman manggis.
2. Cara mekanis : Mengusir (langsung, dengan bunyi-bunyian), menangkap (gropyokan), memerangkap, atau menembak dengan senapan angin. Selain itu dapat di gantungkan kaleng-kaleng di pohon durian yang berfungsi untuk menakut-nakuti tupai.
3. Cara kimiawi : Menggunakan perangkap umpan beracun.

















BAB IV. PENUTUP

A.  Kesimpulan
Bedasarkan pengamatan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa jenis serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman durian. Serangan yang paling menyebabkan kerugian yang besar yaitu serangan hama tupai. Sistem tata air kurang baik sehingga pada musim kemarau akan kekeringan air dan pada musim hujan akan kebanjiran.
B.  Saran
Perlu dilakukannya pengendalian hama tupai dan perbaikan sistem tata air yang baik agar tanaman durian menghasilkan produksi yang tinggi sehingga akan meningkatkan pendapatan petani.







DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1997. Budidaya Durian. Kanisius. Yogyakarta.
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=DURIAN&source=web&cd=2&cad=rja&ved=0CDIQFjAB&url=http%3A%2F%2Fid.wikipedia.org%2Fwiki%2FDurian&ei=jOdOUd-qHcXmrAeOpoFQ&usg=AFQjCNGXcOZCf8T5HYZFqu5kw2IZ4QUcWg&bvm=bv.44158598,d.bmk
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-durian.html
http://www.langkahbisnis.com/teknik-menanam-durian-durian-bhineka-bawor-maupun-durian-lainnya/
http://tipspetani.blogspot.com/2012/03/cara-budidaya-durian-montong.html
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=budidaya+durian&source=web&cd=15&cad=rja&ved=0CIABEBYwDg&url=http%3A%2F%2Fdurianunggul.wordpress.com%2Fbudidaya-tanaman-durian%2F&ei=JulOUbT-Esi4rgfun4GwBg&usg=AFQjCNFdgnE05bdeIXn-a0lgQ-b6J44tgA&bvm=bv.44158598,d.bmk (diakses pada 20 maret 2013).








Makalah pengaruh inokulasi jamur mikoriza arbuskula asal tanah hutan tanaman jati terhadap pertumbuhan bibit jati


ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inokulasi jamur mikoriza arbuskula asal tanah hutan tanaman jati terhadap pertumbuhan bibit jati dikaitkan dengan perkembangan mikoriza arbuskula. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan faktor inokulan tiga taraf dan 10 ulangan, yaitu kontrol (tanpa inokulasi), diinokulasi dengan spora Gigaspora sp dan Glomus sp. Spora hasil isolasi berasal dari tanah hutan tanaman jati di Tangen, Surakarta. Medium pertanaman adalah campuran tanah asal lapangan dan pasir pada rasio 1:1 (v/v) yang disterilkan.
 DOWNLOAD VERSI MICROSOFT WORD : KLIK DI SINI




Pemupukan dilakukan dengan menambahkan pupuk majemuk NPK sebanyak 0,0625 g per bibit yang dicampurkan ke dalam medium. Pengamatan dilakukan selama lima bulan. Data dianalisis dengan metode Analisis Sidik Ragam dan selanjutnya dilakukan uji jarak berganda Duncan untuk menentukan besarnya perbedaan antar perlakuan pada taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi spora jamur mikoriza arbuskula meningkatkan pertumbuhan bibit jati, dengan inokulasi Gigaspora sp menghasilkan pertumbuhan tertinggi. Kadar N, P, K dan Ca meningkat dengan inokulasi spora jamur mikoriza arbuskula, baik Gigaspora sp maupun Glomus sp.
 Pertumbuhan bibit jati yang meningkat diikuti dengan peningkatan persentase infeksi dan sporulasi jamur mikoriza arbuskula yang besar, dan peningkatan tertinggi terjadi pada bibit yang diinokulasi Gigaspora sp. Hasil-hasil ini menunjukkan  bahwa pada tanah hutan tanaman jati di Tangen bertipe grumusol, pemupukan NPK nisbi rendah (0,0625 g NPK per bibit) dan inokulasi spora jamur mikoriza arbuskula memperbaiki pertumbuhan, meningkatkan kadar hara serta memperbaiki perkembangan asosiasi mikoriza pada bibit jati. Kata kunci : jati, Gigaspora sp, Glomus sp, pertumbuhan bibit, asosiasi mikoriza.


I.                   LATAR BELAKANG

Mikoriza arbuskula merupakan suatu struktur asosiasi antara fungi akar dengan tanaman tingkat tinggi, yang terbentuk pada tidak kurang dari 90 % tumbuhan berklorofil (Fitter dan Merryweather, 1992; Brundrett et al., 1996; Thorn, 1997; Rajan et al., 2000). Jati (Tectona grandis Linn. f.) merupakan satu di antara tanaman tingkat tinggi yang berasosiasi dengan fungi mikoriza arbuskula (FMA), baik di lapangan maupun di lingkungan persemaian (Hardjodarsono, 1977; Ali et al., 1995; Corryanti et al., 2001).
 Dari beberapa penelitian terdahulu dilaporkan bahwa terbentuknya asosiasi mikoriza arbuskula pada jati berpengaruh meningkatkan pertumbuhan bibit dan kadar hara-hara makro seperti N dan P (Corryanti dan Rohayati, 1999; Irianto et al., 2001; Suraya, 2002) serta hara-hara mikro seperti Cu dan Zn (Rajan et al., 2000). Pengamatan tentang FMA asal tanah hutan tanaman jati dan pengaruh asosiasinya terhadap pertumbuhan jati belum banyak diamati secara mendalam.
 Asosiasi mikoriza yang terjadi secara alamiah berbeda antar satu ekosistem dengan ekosistem lainnya dan asosiasi akan efektif pada kondisi perakaran dan lingkungan yang paling sesuai (Jeffries & Dodd, 1991; Bagyaraj, 1994; Moutoglis et al., 1996).  Oleh karena itu efektivitas asosiasi mikoriza pada tanaman inang bervariasi antar spesies, varietas (Jeffries dan Dodd, 1991; Bagyaraj, 1994; Rajan et al., 2000), bahkan antar ekosistem (Tommerup, 1994). Perbedaan ini terjadi karena dipengaruhi oleh interaksi antara tanaman inang, FMA dan sifat-sifat kimia serta fisika tanah sebagai lingkungan tumbuh (Moutoglis et al., 1996; Rajan et al., 2000; van Der Heijden et al., 2001). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inokulasi spora FMA asal tanah hutan tanaman jati terhadap pertumbuhan bibit jati dikaitkan dengan perkembangan mikoriza arbuskula.

II.                BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di lokasi pembibitan dan berlangsung selama tujuh bulan, yakni dari Nopember 2005 – Mei 2006. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor. Faktor yang diuji terdiri dari tiga taraf, yakni tanpa inokulasi, diinokulasi spora Gigaspora sp dan diinokulasi spora Glomus sp, yang masing-masing diulang sepuluh kali. Tanah contoh diambil dari lapis olah di sekitar tanaman jati di hutan tanaman jati, BKPH Tangen, KPH Surakarta, Perum Perhutani.
 Tanah tersebut masuk ke dalam tipe tanah grumusol, dengan sifat kimia yaitu pH 7,6, kandungan karbon 1,8%, N total 0,2%, P tersedia 11,9 ppm, K tertukarkan 0,5 me/100g, Ca tertukarkan 6,9 me/100g, magnesium tertukarkan 0,9 me/100g, kapasias pertukaran kation 30,8 me/100g, kandungan bahan organik 3,2 % dengan fisik tanah bertekstur lempung. Medium pertanaman terdiri atas campuran tanah contoh dan pasir pada 1:1 (v/v), yang disterilisasi dengan menghembuskan fungisida berbahan aktif benomyl 50 % dan diinkubasi selama seminggu sebelum digunakan.
Bibit jati berasal dari perkecambahan benih asal Kebun Benih Klon Jati, Padangan. Akar bibit jati yang siap disapih terlebih dahulu direndam dalam HClO4 2% selama sepuluh detik, kemudian dibilas dengan akuades yang diulang tiga kali. Pemberian pupuk dilakukan dengan menambahkan NPK (15:15:15) sebanyak 0,0625 g per bibit (takaran pupuk berdasarkan hasil penelitian pendahuluan) dan diberikan selama dua kali selama masa percobaan, yaitu satu dan dua bulan setelah penyapihan. Spora berasal dari hasil isolasi melalui kegiatan pemerangkapan spora (trapping) fungi mikoriza.
Tipe FMA hasil isolasi yang digunakan adalah Gigaspora sp dan Glomus sp. Inokulasi dilakukan terhadap bibit jati, yaitu sebanyak 30 spora Gigaspora sp (Bierman dan Lindermann, 1983; Tawaraya et al., 1998) atau 50 spora Glomus sp (Fakuara, 1988) untuk setiap bibit percobaan. Sebelum diinokulasikan, spora disterilisasi dengan HCLO4 0,2 % selama sepuluh detik, kemudian dibilas dengan akuades. Pemeliharan bibit meliputi penyiraman medium pertumbuhan sesuai kapasitas lapangan. Untuk menghindari evaporasi yang berlebihan dan berkembangnya organisme yang tidak dikehendaki, pot ditutupi dengan kertas aluminium (aluminium foil) yang diberi lubang agar tetap terjaga aliran pertukaran udara. Pengacakan letak pot dalam rak percobaan dilakukan seminggu sekali.
 Pengendalian hama dilakukan dengan menyemprotkan fungisida bila diperlukan. Pengukuran. Pertumbuhan bibit meliputi tinggi, diameter serta bobot kering bibit diukur secara periodik, yakni sekali dalam dua minggu selama masa percobaan lima bulan. Hara yang dianalisis dalam jarigan tanaman, yaitu N, P K dan Ca melalui proses destruksi basah, dan selanjutnya kadar hara dianalisis berdasarkan metode Kjeldhal (1985 cit. Jones et al., 1991) untuk N, analisis kolorimetrik dengan metode vanado molybdate yellow untuk P, dan atomic absorption spectrofotometry untuk penetapan K dan Ca (Jackson, 1967). Konsentrasi hara dinyatakan atas dasar bobot kering tanaman dan kadar hara adalah hasil perkalian bobot kering dengan konsentrasi hara (Tan, 1995).
Perkembangan asosiasi mikoriza arbuskula meliputi persentase infeksi dalam akar bibit dan perkembangan spora. Pengukuran persentase infeksi akar mengikuti metode pewarnaan Kormanik dan McGraw (Brundrett et al. 1996). Akar-akar lateral seberat 2 gram berat segar dan sebanyak 3 ulangan dibersihkan dan direndam dalam larutan KOH 10% dan dibiarkan semalam. Selanjutnya akar dibilas beberapa kali dengan akuades hingga bersih dari larutan KOH, direndam dalam larutan HCl 2% selama 30 menit, lalu dilakukan kegiatan pewarnaan dengan menambahkan tryphan blue 0,05 % dalam larutan asam laktogliserol secukupnya (1:1:1 masing-masing untuk asam laktat, gliserol dan air) hingga akar terendam. Sebelum akar diamati, dilakukan destaining dengan larutan gliserin 50%. Infeksi akar diamati dengan bantuan kotak bergaris (gridline intersect) yang dilekatkan pada dasar cawan petri (Brundrett et al., 1996). Persentase infeksi adalah jumlah akar yang terinfeksi, yang dilihat dari banyaknya garis perpotongan pada penunjuk kotak bergaris dibandingkan dengan seluruh akar yang diamati. Pengamatan dilakukan setiap empat minggu. Perkembangan spora diukur pada setiap empat minggu, dengan mengambil tanah contoh sebanyak 100 g. Tanah contoh disaring melalui saringan bertingkat. Hasil saringan yang diamati adalah materi yang tertahan di saringan berukuran 200 dan 300 mesh
. Jumlah spora dihitung dengan bantuan penghitung dan mikroskop monokuler (Tommerup, 1994). Analisis statistik. Data percobaan dianalisis dengan Analisis Ragam dengan uji F terhadap peubah yang diamati. Jika terdapat pengaruh yang signifikan, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan untuk mengetahui besarnya perbedaan rata-rata antar perlakuan.

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Pertumbuhan bibit jati

Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan bibit jati meningkat dengan inokulasi spora FMA Gigaspora sp dibandingkan kontrol, masing-masing untuk tinggi dan diameter mencapai 21,4 % dan 12,0 %. Pada bibit jati yang diinokulasi spora Glomus sp tidak terjadi peningkatan tinggi bibit, bahkan untuk pertumbuhan diameter inokulasi ini menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan kontrol (Gambar 1a, b). Bobot kering bibit jati menunjukkan bahwa dengan inokulasi spora FMA terjadi peningkatan sebesar 4,2-39,2 % dan 30,4-48,7 %, berturut-turut untuk bobot kering total dan bobot kering akar. Lebih lanjut, peningkatan bobot kering terbesar terjadi pada bibit jati yang diinokulasi dengan spora Gigaspora sp (Gambar 1c). Perbedaan pertumbuhan bibit jati dengan inokulasi tipe FMA yang berbeda, dilaporkan juga oleh Rajan et al. (2000), yaitu dengan inokulasi beberapa isolat FMA. Perbedaan ini pada perkembangan lanjut akan memengaruhi efektivitas asosiasi mikoriza arbuskula pada tanaman inangnya (Setiadi, 1999; van der Heijden & Kuyper, 2001). Perbedaan yang signifikan antar perlakuan terjadi pada parameter tinggi bibit, yaitu atas inokulasi Gigaspora sp dibanding kontrol, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan pada parameter diameter.
 Namun demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa inokulasi spora FMA menghasilkan pertumbuhan bibit yang nisbi lebih tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan takaran pemupukan 0,0625 g NPK per bibit yang diberikan ke dalam medium pertanaman tanah grumusol asal Tangen disertai inokulasi FMA dapat meningkatkan pertumbuhan bibit. Inokulasi dengan Gigaspora sp yang menghasilkan respon yang lebih besar dibandingkan Glomus sp, diduga karena perbedaan fungsi dan mekanisme asosiasi fungi mikoriza dalam memengaruhi pertumbuhan inang (Harley, 1994). Hal ini diduga terjadi karena adanya interaksi di antara faktorfaktor yang menentukan, seperti karakteristik tanaman inang, sifat fisika dan kimia tanah dan karakteristik FMA itu sendiri (Tommerup, 1994).
 Pengamatan mekanisme asosiasi kedua tipe FMA ini pada tanaman inang belum banyak diketahui (O’Kefee & Sylvia, 1991; Nagahashi et al., 1994) Sejalan dengan perubahan tinggi dan diameter, bobot kering tanaman meningkat paling besar pada bibit jati yang diinokulasi FMA Gigaspora sp. Sebaliknya, dengan inokulasi Glomus sp bobot kering bibit tidak menunjukkan kesesuaian inokulan dengan tanaman inang sehingga memengaruhi pertambahan bobot kering. Peningkatan
yang signifikan dalam bobot kering total nisbi terhadap kontrol terjadi pada bibit jati yang diinokulasi Gigaspora sp, dan ini mengindikasikan bahwa inokulasi dengan tipe inokulan tersebut dapat meningkatkan bobot total bibit jati. Sebaliknya, pada bibit jati dengan bobot kering rendah, yaitu pada bibit yang diinokulasi Glomus sp, peningkatan yang signifikan hanya terjadi pada bobot kering akar.
Hasil ini dapat disimpulkan bahwa inokulasi dengan spora Glomus sp kurang memberikan peningkatan pertumbuhan bagian pucuk bibit jati, tetapi sebaliknya meningkatkan pertumbuhan bagian akar. Antar inokulan tipe FMA dengan demikian memiliki peran dan karakteristik yang spesifik terhadap asosiasi mikoriza yang terbentuk, yang hal ini tampak dari hasil bobot kering bibit yang lebih besar dibandingkan kontrol.

B. Kadar hara pada bibit jati

Pemberian inokulan spora FMA menghasilkan peningkatan kadar hara-hara makro dalam bibit jati. Dengan inokulasi spora Gigaspora sp, kadar hara N, P, K dan Ca meningkat berturut-turut sebesar 76,5 %, 200 %, 29,7 % dan 125 % dibandingkan kontrol, sedang inokulasi spora Glomus sp menghasilkan peningkatan berturut-turut sebesar 152,9 %, 200 %, 24,3 % dan 59,1 %. Hasil ini menunjukkan bahwa setiap tipe inokulan menghasilkan respon yang berbeda dalam kadar hara makro pada bibit jati, dan antar hara makro menunjukkan peningkatan yang bervariasi satu dengan lainnya.
Peningkatan kadar hara N tertinggi terjadi dengan inokulasi spora Glomus sp; kadar hara P nisbi sama pada inokulasi kedua inokulan, sedangkan kadar K dan Ca lebih tinggi pada inokulasi Gigaspora sp (Gambar 2). Perbedaan mekanisme fungsi asosiasi antar FMA di dalam tanaman inang (Tommerup, 1994) menghasilkan respon kadar hara pada tanaman inang yang berbeda. Peningkatan kadar hara utama dalam penelitian ini membuktikan bahwa dalam tingkat pemupukan NPK 0,0625 g per bibit dengan pemberian inokulan akan meningkatkan kadar hara makro N, P, K dan Ca. Kadar hara P menunjukkan nilai yang paling rendah dibandingkan kadar hara lainnya, namun demikian peningkatannya paling besar di antara hara lainnya. Ini membuktikan keterlibatan FMA dalam menyerap hara P. Dalam penelitian yang sejalan dilaporkan, bahwa pada tanaman yang diinokulasi dengan spora Gigaspora yang diketahui jumlahnya dijumpai kandungan P, K, Mg dan Cu yang tinggi, tetapi rendah untuk kandungan Ca (Chan et al., 1981).
 Inokulasi Glomus sp menunjukkan tanggapan kadar hara N lebih besar dibandingkan inokulasi Gigaspora sp. Kadar P, K dan Ca pada bibit jati meningkat sebanding antara yang diinokulasi Gigaspora sp dengan yang diinokulasi Glomus sp. Perbedaan tipe inokulan yang berbeda memiliki fungsi dan reaksi yang berbeda dalam lingkungannya, termasuk saat FMA
menginfeksi dan berasosiasi dengan akar tanaman (Mason et al., 1992; Tommerup, 1994), dan mekanisme tentang penyerapan hara oleh masing-masing tipe FMA masih belum banyak diketahui (Hawkins et al, 2000).

C. Persentase infeksi akar

Hasil pengamatan antar bibit jati yang diinokulasi Gigaspora sp dengan Glomus sp menunjukkan pola tanggapan infeksi akar yang berbeda. Pada usia bibit jati 1,5 bulan infeksi akar pada yang diinokulasi Glomus sp baru mencapai 10 %, sementara belum terlihat pada bibit yang diinokulasi Gigaspora sp. Selanjutnya, pada bibit jati berusia 2,5 bulan respon infeksi kedua inokulan mulai terlihat responsivitasnya dan meningkat dengan bertambahnya umur bibit (Gambar 3a).
Infeksi akar tertinggi terlihat pada bibit jati yang diinokulasi Gigaspora sp, yang mencapai hingga 78,12 % dan lebih tinggi dari yang diinokulasi Glomus sp, yang mencapai hingga 54,02 %. Persentase infeksi inokulasi Gigaspora sp menunjukkan pergerakan meningkat dengan makin bertambah usia bibit jati, sebaliknya terjadi pergerakan infeksi akar yang nisbi lebih rendah yang diinokulasi Glomus sp. Pemupukan takaran yang nisbi rendah dalam penelitian ini sebagaimana dapat menggiatkan berkembangnya infeksi dalam perakaran bibit tanaman inang (Clark, 1997; Sylvia, 2005). Di samping itu, infeksi akar pada tanaman juga dipengaruhi langsung dan tidak langsung oleh faktor-faktor lingkungan yang selalu dinamis, sehingga memengaruhi kecepatan infeksi (Moutoglis et al., 1996; van der Heijden et al., 2001).
Ada tiga mekanisme yang menyebabkan terjadinya tanggapan perkembangan asosiasi mikoriza atas kondisi lingkungan yang memengaruhinya, yaitu: a) perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi di dalam akar sehingga menentukan perkembangan fungi; b) adanya perubahan kuantitatif dan kualitatif eksudat akar yang memengaruhi perkembangan miselium ekstra; c) aliran karbon dari inang ke fungi akan menentukan perkembangan miselium dan spora fungi (Nagahashi et al., 1996).
Sporulasi spora. Pengamatan sporulasi dalam zona rizosfer bibit jati mulai terlihat setelah bibit berumur 1,5 bulan. Sporulasi dalam 100 g tanah menunjukkan inokulasi Gigaspora sp menghasilkan spora dalam kisaran 47- 159 spora dalam 100 g tanah, sedang inokulasi Glomus sp dalam kisaran 47-53 spora dalam 100 g tanah. Perkembangan sporulasi inokulasi Glomus sp menunjukkan pola perkembangan yang nisbi mendatar (stagnasi) dibandingkan inokulasi Gigaspora sp yang cenderung meningkat (Gambar 3b).
Dengan pola yang berbeda ini menunjukkan respon sporulasi antar tipe FMA memiliki ciri masing-masing. Abbot et al. (1992) dan Brundrett et al. (1999) mengungkapkan spora Glomus sp, dalam berbagai situasi lingkungan sering tidak berkembang dengan baik dibanding komponen-komponen siklus hidupfungi lainnya, seperti hifa dan propagul lainnya, sementara Scutellospora sp, Gigaspora sp, atau Acaulospora sp, sporasporanya banyak dijumpai pada berbagai tipe tanah. Untuk itu tanah hutan tanaman jati di Tangen perolehan spora Glomus sp dalam tanah tampak jauh lebih sedikit dibandingkan perolehan spora Gigaspora sp. Pemberian pupuk NPK dengan takaran 0,0625 g per bibit menghasilkan sporulasi yang meningkat tajam, yaitu mencapai 47 spora dalam 100 g tanah pada usia bibit mencapai 1,5 bulan. Perkembangan lebih lanjut sporulasi pada takaran ini menunjukkan Gigaspora sp menghasilkan sporulasi yang tinggi dan pada akhir pengamatan mencapai 159 spora per 100 g tanah, sementara Glomus sp mencapai 53 spora per 100 g tanah. Dalam Mason et al. (1992) dan Clark (1997) disebutkan spora fungi mikoriza akan meningkat laju pertumbuhannya pada takaran pemupukan yang menggiatkan terbentuknya spora. Penelitian ini menunjukkan takaran pemupukan yang rendah mencukupi kebutuhan hara pertumbuhan bibit jati, sementara perkembangan FMA merespon positip dilihat dari sporulasi dan infeksi akar. Hasil ini membuktikan setiap tipe FMA akan menanggapi lingkungan dengan perbedaan kuantitas sporulasi. Diduga sifat-sifat kimia fisika tanah medium dan praktik pengelolaan tanah memengaruhi kelangsungan berkembangnya spora Glomus sp yang nisbi terhambat.

IV.             KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
1.    Inokulasi spora FMA di tanah grumusol asal hutan tanaman jati Tangen meningkatkan pertumbuhan bibit jati. Inokulasi dengan spora Gigaspora sp menghasilkan pertumbuhan tertinggi, berturut-turut pertumbuhan tinggi, diameter dan bobot kering yaitu 21,4 %, 12 % dan 39,2 % dibandingkan kontrol.
2.      Kadar hara makro N, P, K dan Ca meningkat dengan inokulasi spora FMA, Gigaspora sp dan Glomus sp, berturut-turut meningkat berturut-turut sebesar 76,47-152,94 %, 200 %, 24,32-29,73- % dan 59,09-125 % dibandingkan kontrol.
3.      Pertumbuhan yang meningkat diikuti dengan meningkatnya persentase infeksi dan sporulasi FMA yang lebih besar, dan peningkatan terbesar terjadi pada bibit jati yang diinokulasi Gigaspora sp, mencapai 78,12%.

4.  Di tanah hutan tanaman jati di Tangen bertipe grumusol dengan pemupukan NPK 0,0625 g per bibit dengan inokulasi spora FMA dapat memperbaiki pertumbuhan, kadar hara makro serta memperbaiki perkembangan asosiasi mikoriza bibit jati dibandingkan tanpa diberi inokulan spora FMA.

B. Saran
Penelitian lebih jauh tentang masing-masing fungsi tipe FMA terhadap pertumbuhan bibit jati masih diperlukan dalam kaitan pemanfaatan FMA di bidang pembibitan jati.

DAFTAR PUSTAKA

Abbot, L.K., Robson, A.D., Jasper, D.A., Gazey, C., 1992. What is the role of VA-mycorrhizal hyphae in soil? In.: Read, D.J., Lewis, D.H., Fitter, A.H., Alexander, I.J. (Eds) Mycorrhizas n ecosystem. International. University Press, Cambridge. CAB. p.:26-36.

 Ali, S.S., Gupta, N. dan Rahangdale, R., 1995. Ecology of vesicular-arbuscular mycorrhizal fungi in tropical forest of central India. In. Biology and biotechnology of mycorhizae. Biotrop special publication No. 56,SEAMEO BIOTROP, Bogor. p. 49-53.

Fitter, A. H. dan Merry-Weather J. W., 1992 Why are some plants more mycorrhizal than others? An ecological enquiry. In. D J Read, D H Lewis, A H Fitter, I J Alexander (eds) Mycorrhizas in Ecosystems. CAB International, pp: 26-36.

Bagyaraj, 1994. Handbook of applied mycology: Ecology of VAM. Marcel Decker, Inc New York. p. 1-34.

Brundrett M., Bougher N., Dell B, Grove T. dan Malajczuk N., 1996. Working with mycorrhizas in forestry and agriculture. ACIAR Monograph 32, Canberra, Australia.

Brundrett M.C., Abbot L.K. dan Jasper D.A., 1999. Glomalean mycorrhizal fungi from tropical Australia. Mycorrhiza 9:305-314.

Chan, SK, Thai, L.H., and Abas, A.G., 1981. Study of cassava response to phosphorus with and without mycorrhizal inoculation. Malaysian society of soil science. P: 383-393.

Clark, R.B., 1997. Arbuscular mycorrhizal adaptation, spore germination, root colonization, and host plant growth and mineral acquisition at low pH. Plant and Soil 192: 15-22.

Corryanti dan Rohayati, 1999. Studi efektivitas jenis endomikoriza pada pembibitan jati. Prosiding Seminar Nasional Mikoriza I, Bogor p. 154-161.

Corryanti, Maryadi F. dan Irmawati, 2001. Arbuscular mycorrhizas fungi under teak
Seed Orchard. Poster presented on the Third International Conference on Mycorrhizas: Diversity and integration in Mycorrhizas 8-13 July, Adelaide, South Australia..

Hardjodarsono, 1977. Jati. Edisi kedua. Bagian Penerbit Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Harley, J.L., 1994. The state of the art. In Techniques for Mycorrhizal Research (Eds. Noris J.R., Read, D.J., Varma, A.K.) . Academic Press London. 1-24

Hawkins, H., Johansen, A., George, E., 2000. Uptake and transport of organic and inorganic nitrogen bu arbuscular mycorrhizal fungi. Plant and Soil 226: 275-285

Irianto, R.S.B. , Santoso, E., Corryanti, R. Prematuri, M. Turjaman, E. Widyati, I.R. Sitepu, S. Santoso. 2001. Pengaruh penggunaan cendawan mikoriza arbuskula, pupuk dan media tumbuh terhadap pertumbuhan bibit jati (Tectona grandis L. F.). Kerjasama penelitian Pusbang SDH Perum Perhutani– Puslitbanghut dan KA. Bogor. (publikasi terbatas)

Jackson, M. L., 1967. Soil chemical analysis. Prentice-Hall of India Private Limited. New Delhi.

Jeffries, P. dan Dodd, J.C., 1991. The use of mycorrhizal inoculants in forestry and agriculture. In. Arora, D.K., Rai, B., Mukerji, K.G., Knudsen, G.R. (Eds), Handbook of applied mycology. Soil and Plants Volume 1. p.155-185.

Jones, Jr. J. Benton, Benyamin, W, Mills, H.A., 1991. Plant analysis handbook. Micro-macro Publishing, Inc.
Mason, p.a., Musoko, M.O., Last, F.T., 1992. Short-term changes in Vesicular-Arbuscular Mycorrhizal Spore Populations in Terminalia Plantations in Cameroon. In: Read, D.J., Lewis, D.H., Fitter, A.H., Alexander, I.J., Mycorrhizas in ecosystems. C.A.B. International. University Press, Cambridge. P.:261-267.

Moutoglis, P, and Widden, P., 1996. Vesicular-arbuscular mycorrhizal spore populations in sugar maple (Acer saccharum marsh. L) forest. Mycorrhiza 6: 91-97.

Nagahashi, G., Douds Jr, D.D., Abney, G.D., 1996. Phosphorus amendment inhibits hyphal branching of the VAM fungus Gigaspora margarita directly and indirectly through its effect on root exudation. Mycorrhiza 6: 403-408.

O’Keefe, D.M. dan Sylvia, D.M., 1991. Mechanisms of the vesicular-arbuscular mycorrhizal plant-growth response. In. Arora, D.K., Rai, B., Mukerji, K.G., Knudsen, G.R. (Eds), Handbook of applied mycology. Soil and Plants Volume 1. p.35-54.
luvne.com tipscantiknya.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com