Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

25 November, 2015

Sejarah Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia merupakan bahasa Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketetapannya tercantum di dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 pasal 36. Pengaturan rincinya terdapat dalam Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2009 tentang “Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta lagu kebangsaan” utamanya BAB III.

DOWNLOAD VERSI MICROSOFT WORD DI SINI : http://adf.ly/1SnVdu

Bahasa Indonesia akar bahasanya berasal dari bahasa Melayu. Tepatnya Melayu Riau. Perkembangan utamanya di Pulau Sumatra dan semenanjung Malaya (Malaysia). Bahasa Melayu banyak digunakan dalam perdagangan Nusantara, sehingga tersebar ke banyak kawasan. Bahasa Melayu juga tersebar luas  lewat karya sastra terutama Minangkabau.
Secara resmi bahasa Melayu diadopsi menjadi bahasa Indonesia dan ditetapkan sebagai bahasa persatuan pada kongres pemuda ke-2 tanggal 28 Oktober 1928 pada peristiwa yag dikenal sebagai sumpah pemuda. Terutama butir ketiga sumpah pemuda yang disusun oleh Muhammad Yamin:
Kami putra dan Putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.
Karena itulah tanggal 28 Oktober diperingati sebagai hari lahirnya bahasa Indonesia. Bulan Oktober dikenal sebagai bulan bahasa.

Bahasa Indonesia mengalami perkembangan. 

Selain bahasa Melayu sebagai bahasa ibu, bahasa Indonesia juga banyak mendapat pengaruh dari bahasa asing maupun daerah. Tak heran dulu dosen penulis pernah membuat rumusan: bahasa Indonesia = bahasa Melayu + bahasa daerah + bahasa asing.
Bahasa asing atau daerah diserap ke dalam bahasa Indonesia lewat proses adopsi dan adaptasi. Contohnya dari bahasa Arab kita mengenal: amal, rakyat, dewan, majelis, shalat, masjid, unsur, dll. Dari bahasa Inggris: efektif, efisien, ekonomi, sukses, dll. Dari bahasa Belanda: Kornal, dll. Bahasa Cina: Sio may, bakso, becak, dll. Bahasa Sangsekerta: Dewa, Adi, Maha, dll. Dari bahasa Daerah, mantan, unggah, ungguh, dll.
Pertanyaan yang sering mucul, mengapa bahasa Melayu yang diadopsi menjadi bahasa nasional Indonesia? Mengapa tidak bahasa Jawa yang lebih banyak penggunannya?
Berikut adalah beberapa alasan pemilihan bahasa Melayu:
  • Bahasa Melayu banyak digunakan dalam perdagangan di seluruh Nusantara. Orang dari berbagai daerah berkomunikasi menggunakan bahasa melayu. Berbeda dengan bahasa Jawa atau Sunda, walau penggunanya banyak, namun lebih terkonsentrasi pada suatu daerah tertentu, tidak menyebar ke seluruh Nusantara.
  • Bahasa Melayu dikuasai oleh orang-orang besar, mahasiswa, pejabat, raja-raja, dll. Ada gengsi tersendiri menggunakan bahasa Melayu.
  • Bahasa melayu tidak mengenal umpakan (urutan) kebahasaan. Misal dalam bahasa jawa, Krama alus, krama inggil, ngoko alus, ngoko inggil. Pun Bahasa Sunda, Sunda lemes, sunda kasar.

Hal tersebut membuat bahasa Melayu lebih mudah dikuasai tinimbang bahasa lain.
Pertanyaan berikutnya, mengapa huruf latin yang digunakan dalam penulisan bahasa Indonesia? Bukan huruf Jawa/Sunda, bukan Palapa, bukan juga huruf Arab yang notabene digunakan bahasa Melayu?
Analisisnya adalah, saat itu Indonesia dijajah beratus tahun oleh Belanda yang menggunakan huruf latin baik dalam surat, pengumuman, surat kabar, plang, dll. Huruf yang diajarkan di sekolah-sekolah pun kebanyakan huruf latin. Sehingga huruf ini menjadi yang paling populer. Selain itu juga alasan kepraktisan, huruf latin lebih praktis penggunaannya tinimbang huruf lain.
Demikianlah sekilas mengenai sejarah bahasa Indonesia.

21 November, 2015

Tujuan Belajar Bahasa Indonesia

Bahasa Inonesia sudah menjadi mafhum, kita akan semangat melakukan sesuatu jika ada tujuan dan target yang dituju. Bila tak ada tujuan, kita akan susah menentukan arah. Ataupun belajar sekenanya. Begitu halnya ketika belajar bahasa Indonesia. Bahasa kasarnya, buat apa sih kita repot-repot belajar bahasa Indonesia?

 DOWNLOAD VERSI MICROSOFT WORD : KLIK DI SINI


http://mariberbagi-ilmu2.blogspot.co.id/

Nah, pertanyaan ini tentu saja berbeda jawabanya untuk dua kondisi. Satu, bagi orang baru/asing yang belajar Bahasa Indonesia. Dua, untuk orang Indonesia yang sudah sedikit banyak sebenarnya menguasai bahasa Indonesia.
Untuk kondisi pertama, kita harus tahu apa yang membuatnya merasa harus menguasai bahasa Indonesia. Mungkin karena alasan pekerjaan. Mungkin juga alasan kekeluargaan, karena menikah dengan orang Indonesia. Tak bisa dipungkiri bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa besar dunia. Bahkan ditabsihkan sebagai bahasa ASEAN.
Untuk kondisi kedua, di mana sebenarnya ia sudah menguasai bahasa Indonesia, berikut adalah tujuan belajar bahasa Indonesia. Pengetahuan akan tujuan ini penting agar tidak ada lagi gerutuan, “kan di SD kita sudah belajar bahasa Indonesia, masa sih belajar terus… he.”


tujuan belajar bahasa Indonesia:

  1. Agar dapat berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kita harus terus membenahi diri agar bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
  1. Berbahasa yang baik artinya sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Penjelasan sederhananya, misal ketika kita berbicara tentu harus menyesuasikan situasi dan kondisi sekitar. Jika berbicara di pasar yang bising tentu tidak disarankan untuk berbiacara panjang lebar dan detail. Kadang hanya perlu berbicara denga singkat dan padat.
  1. Berbahasa yang benar artinya berbahasa sesuai kaidah bahasa.
Berbahasa yang benar sesuai kaidah bahasa. Misal dalam tulisan, ejaan menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Menggunakan bahasa yang baku, juga kaidah tata bahasa yang berlaku.

  1. Agar terampil berbahasa Indonesia
Keterampilan berbahasa meliputi:
  1. Menyimak
  2. Berbicara
  3. Membaca
  4. Menulis

  1. Menyimak
Keterampilan berbahasa  paling dasar adalah menyimak (mendengarkan). Hampir semua orang memiliki kemampuan mendengar. Tentu dengan pengecualiaan orang yang Allah istimewakan. Meski begitu dalam pelajaran bahasa Indonesia, orang (siswa) bukan hanya dituntut bisa mendengar tapi juga mendengarkan (menyimak). Mendengarkan (menyimak) maknanya mendengar sambil meresapi apa yang didengarnya. Jadi bukan sekadar mendengar sepintas. Dalam pelajaran Indonesia inilah siswa diajarkan keterampilan menyimak dengan baik.

  1. Berbicara
Sama seperti menyimak, mayoritas orang bisa berbicara. Namun keterampilan berbicara cakupannya lebih luas, yakni dapat berbicara di forum umum. Kalau berbicara di belakang forum, hampir semua orang bisa. Tapi berbiara di hadapan banyak orang, belum tentu. Saking krusialnya masalah berbicara di depan umum, bahkan sebuah hasil penelitian   (dikutip dari Majalah Annida) menyebutkan bahwa banyak orang yang lebih takut berbicara di depan umum tinimbang kematian.
Kemampuan berbicara di depan umum inilah yang coba diasah dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Siswa dituntut untuk mampu mengutarakan gagasannya di depan khalayak, tidak sekadar berani berbicara di belakang layar.

  1. Membaca
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia lah siswa pada tahun pertama (kelas 1 SD) dan kelas berikutnya diajarkan membaca. Mulai dari belajar huruf, mengeja “Ini Budi, ini Bapak Budi, dll”.
Setelah menguasai dasar membaca, siswa diarahkan untuk mencintai kegiatan ini. Membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca pengetahuan siswa bertambah. Sayangnya di negeri ini kegiatan membaca kalah dengan kegiatan lain semisal menonton televisi atau bermain game.


  1. Menulis
Pada tahap awal, seiring pembelajaran membaca siswa juga diajarkan untuk menulis. Mulai menulis huruf dan abjad, merangkai menjadi kata, kemudian kalimat. Pada tahap berikutnya, kegiatan menulis diarahkan agar siswa mampu mencipta, berkarya. Bukan sekadar menyalin tulisan. Menulis yang dimaksud adalah membuat tulisan baru.
Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dianggap paling sulit. Karena itulah hanya sedikit orang yang menguasai keterampilan ini. Tugas guru mata pelajaran Indonesia membantu dan mengatasi kesulitan tersebut.

  1. Mampu berekspresi dan apresiasi sastra
  2. 1.Apresiasi: Menikmati karya sastra
Pada tahap pertama siswa dikenalkan pada karya sastra berupa puisi, pantun, cerpen, drama, dll. Mereka dikenalkan pada keindahan sastra. Lama-kelamaan semoga saja itu dapat menjadikan siswa menikmati karya sastra. Diharapkan siswa senang membaca puisi, cerpen, novel, menonton drama, dll.

  1. Ekspresi: Menghasilkan karya sastra
Menghasilkan karya sastra tidak bermakna berat. “Menghasilkan” tersebut bisa terwujud dalam kegiatan misal deklamasi puisi. Membaca puisi merupakan aprsiasi sastra, sementara hasil deklamasinya adalah ekspresi sastra. Hal lain yang termasuk ekspresi sastra adalah mencipta puisi, cerpen, novel, drama, dll.

Langkah-langkah Menulis Puisi Tentang Hewan dan Tumbuhan

menulis puisi bagi sebagian orang (siswa) adalah sesuatu yang sulit. Permasalahan yang dihadapi biasanya adalah kendala pemilihan kata (diksi) dan ide (imajinasi). Untuk masalah pertama solusi yang bisa dikedepankan adalah membiasakan siswa membaca puisi karya orang lain, atau mendengarkan/menonton pembacaan puisi,
Untuk permasalahan yang kedua solusi yang bisa ditawarkan adalah mengajak siswa berinteraksi dengan alam. Bawa siswa ke luar kelas menuju tempat yang nyaman, indah, dan menarik.
Biarkan mereka mengamati flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) di sekirar. Nah, sebelumnya, mari kita bahas mengenai langkah-langkah menulis puisi. Langkah-langkah ini dianggit dengan penyesuaain dari buku K13 Kemendikbud kelas 8.

DOWNLOAD VERSI MICROSOFT WORD : KLIK DI SINI

http://mariberbagi-ilmu2.blogspot.co.id/

Langkah-langkah menulis puisi:

  • Tentukan tema!
Pada kesempatan ini kita batasi pada tema flora dan fauna. Walaupun terbatas, tema ini cukup luas cakupannya. Banyak sekali tumbuhan dan hewan sekitar. Ada burung, semut, kucing, anjing, bunga, pohon mangga, pinus, dll. Lihat saja sekeliling, perhatikan hal yang menarik, jadikan itu tema puisi kita. Misal kucing kucel yang mengeong sendirian, mencari makanan. Atau lihat pohon mangga yang tak bertuan yang berbuah lebat.

  • Lihat kemudian tambahkan imajinasi hal yang akan ditulis!
Setelah tema ditentukan, perhatikan dengan teliti objek yang dijadikan tema puisi. Misal tadi melihat kucing, teliti warnanya, tingkat kekucelannya, jenis eongannya, tempat yang ia tuju, dll. Kalau pohon mangga, lihat bentuk buahnya, jenis mangganya, daunnya, tingginya, dll. Setelah itu tambahkan imajinasi (daya khayal) terhadap objek yang diamati. Misal kucing kumal tadi, coba tutup mata, bayangkan ia berjalan gontai mencari ikan, dari satu rumah ke rumah lain, sayang ia bukannya mendapat belas kasihan, malah mendapat pukulan dari pemilik rumah.
  • Tulis apa yang dibayangkan!
Setelah imajinasi tampil, jangan lupa menuliskan imajinasi tersebut. Langkah awal, tulis saja apa yang terlintas di benak. Tidak usah dulu memikirkan bagus tidaknya. Biarkan ia mengalir.

  • Pilih diksi, ungkapan dan majas yang tepat!
Jika sudah mengalir, jangan lupa perhatikan diksi (pilihan katanya). Juga ungkapan dan majas yang membangun keindahan puisi. Sekilas tentang majas, bisa klik

  • Cermati dan revisi naskah puisi yang sudah ditulis
Pastikan naskah puisi selesai, artinya sampai akhir (ending). Jangan sampai tersendat di tengah jalan. Kalau mengalami block writing (mandeg) boleh ditinggal dulu sebentar, rihat, cari kesegaran. Tapi jangan lama-lama ditinggalnya, nanti malah malas melanjutkan. Seperti kata penulis senior, biarkan saja semua mengalir, jangan dulu diedit atau revisi. Baru setelah semua selesai ditulis silakan cermati lagi. Biasanya setelah dibaca ulang ada saja hal baru yang kita temukan. Kekurangan kata, rima yang kurang pas, bahkan bisa jadi kelebihan kata. Perbaiki sehingga menjadi puisi yang mantap.
Ah ya, tips lain dari penulis senior, jika puisi yang kita tulis ditujukan pada media (cetak/online) tak ada salahnya endapkan dulu, jangan langsung dikirim. Biarkan beberapa jam atau hari. Proses pengendapan berfungsi sebagai pematangan. Kadang kala lewat proses pengendapan ada ide baru/tambahan yang dapat menampah ciamik puisi yang kita tulis.
Begitulah kira-kira tahapan menulis puisi tentang hewan dan tumbuhan , contoh puisinya bisa di klik …………………
Penulis: Prito Windiarto, S.Pd. Alumnus Diksatrasia Universitas Galuh, Penulis Buku.

Bedah Kisi-Kisi UN Bahasa Indonesia 2015

Bedah Kisi-kisi UN Bahasa Indonesia 2015. Kegiatan yang dihelat di Akbid GMC Cilacap ini menghadirkan pemateri  bapak Saheri. Beliau adalah Kepala Sekolah SMP 222 Jakarta. Pada kesempatan ini beliau yang merupakan langganan penulis soal UN menyajikan materi dengan jelas, diselingi humor. Bedah Kisi-Kisi UN ini digelar berdasar refleksi hasil UN tahun-tahun sebelumnya yang menunjukan kesenjangan antara nilai Ujian Sekolah (US)  dan Ujian Nasional (UN). Padahal semestinya terjadi keseimbangan antara dua ujian tersebut. Bedah Kisi-kisi (Biasa juga disebut Bedah SKL UN) dilakukan untuk meningkatkan mutu hasil UN.

DOWNLOAD VERSI MICROSOFT WORD : KLIK DI SINI

 
Baik, pada kesempatan ini  pengampu blog anggit sekilas Bedah Kisi-Kisi UN Bahasa Indonesia 2015 yang disampaikan oleh Bapak Saheri.

UN Bahasa Indonesia hanya mengujikan 2 keterampilan berbahasa yakni membaca dan menulis. Sementara berbicara dan mendengarkan tidak diujikan di UN. Kedua keterampilan itu sebaiknya dimaksimalkan pengujiannya pada ujian praktik.
Sebenarnya keterampilan membaca dan menulis pun dibagi menjadi membaca kebahasaan dan membaca sastra serta menulis kebahasaan dan sastra.
Berikut rincian Bedah Kisi-Kisi UN Bahasa Indonesia aspek membaca kebahasaan:
  • Gagasan utama
Gagasan utama secara sederhana diartikan sebagai permasalahan pokok atau ide pokok. Biasanya terdapat pada kalimat utama. Kecenderungnnya terdapat pada kalimat pertama atau kalimat terakhir.

  • Kalimat Utama
Kalimat utama adalah kalimat yang di dalamnya terdapat gagasan utama. Kalimat utama biasanya diperjelas/dipertentangkan oleh kalimat berikutnya (biasa disebut kalimat penjelas). Kalau kalimat pertama tidak diikuti kalimat penjelas, biasanya kalimat utama berada di akhir kalimat.

  • Mencari Persamaan Informasi
Biasanya disodorkan dua teks (umumnya teks berita). Soal yang diajukan adalah persamaan antara informasi teks pertama dengan teks kedua. Cara mencarinya dibaca dengan teliti, kemudian ditandai.

  • Pola Penyajian Berita
Seperti yang telah kita ketahui, pokok berita yakni adiksimba/askadimega (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana) Pada soal SKL ini biasanya disajikan satu atau dua teks berita. Keduanya menampilkan pola penyajian yang berbeda. Langkahnya, boleh memilih dulu salah satu berita. Analisis kalimat pertamanya dari unsur apa? Apakah unsur apa, siapa, dimana, dll? Cocokan dengan jawaban yang tersedia. Itu cara singkatnya, cara telitinya, baca keseluruhan, tandai masing-masing unsur (pokok) berita.

  • Biografi
Soal yang sering ditanyakan adalah keistimewaan dan hal yang patut diteladani. Pola soalnya, disajikan teks biografi seseorang kemudian diminta memelisik keistimewaan dan hal yang patut diteladani.
Keistimewaan maksudnya kemampuan seseorang yang tidak (jarang) dimiliki orang lain. Misal Habibie bisa menciptakan pesawat, Bill Gates mendirikan Microsoft, Steve Job membangun Apple, dll.
Sementara hal yang patut diteladani maksudnya hal yang positif yang dimiliki tokoh tersebut. Hal yang bisa ditelani tersebut hal yang timbul karena kemauan, bukan hal fisik. Misal tinggi, putih. Melainkan rajin membaca, bekerja keras, dll.

  • Simpulan
Materi ini merupakan materi yang biasanya sulit dikerjakan siswa, karena memang bersifat tafsiran. Secara sederhana simpulan diartikan sebagai  pernyataan akhir dari beberapa gagasan. Ada pendapat yang menyatakan simpulan adalah intisari-kompromi dari gagasan satu dengan gagasan lain.

  • Menjelaskan Maksud Iklan
Pola soalnya:  ditampilkan sebuah iklan yang terdiri atas beberapa kalimat. Siswa diminta menjelaskan salah satu kalimat, misal kalimat 5: rumahnya modern. Maksud dari rumah modern adalah….

  • Menentukan Fakta dan Opini Sebuah Iklan
Fakta maknanya hal yang bersifat nyata objektif. Umumnya berupa angka, misal: rumah beukuran 12 x 15 meter. Namun bisa juga tidak berupa angka, misal: berada di samping Alun-Alun Cilacap.
Sementara opini hal yang bersifat relatif. Bisa terjadi perbedaan pendapat satu orang dengan orang lain. Misal: masih mulus. Mulus versi si A dengan si B bisa jadi berbeda.


  • Mengidentifikasi isi grafik dan tabel
-Untuk grafik dan tabel biasanya diminta menentukan pernyataan yang tepat atau simpulan yang tepat.
Pernyataan adalah hal yang sesuai dengan apa yang ada dalam grafik dan tabel. Tipsnya, perhatikan dengan sungguh-sungguh isi dan keterangan. Termasuk misal keterangan dalam % atau dalam Rp. Biasanya penulis tabel mengecoh hal tersebut.
Simpulan adalah pernyataan yang paling umum dan benar berdasar fakta. Triknya baca seluruh isi dan keterangan grafik dan tabel dengan teliti.

  • Denah
Untuk denah bentuk soalnya adalah menanyakan rute yang paling dekat dari sau titik ke titik berikutnya. Triknya, hafalkan arah mata angin, mana utara mana selatan, dll. Biasanya menggunakan arah mata angin: belok ke barat, kemudian ke selatan melewati Jalan Adiyaksa, dll. Perhatikan juga rambu jalan, misal satu arah berarti tidak bisa dilewati dua arah.

  • Bagan
Bentuk soalnya adalah membuat soal yang ada jawabannya dalam bagan tersebut. Artinya jika bagan itu tak ada, maka jawabanpun tak ada. Misal: Siapakah yang menduduki jabatan tertinggi dalam bagan tersebut, dll. Bukan pertanyaan yang di dalam bagan tidak ada penjelasannya, misal: apa tugas sekretaris. Padahal di bagan  jelas-jelas tidak ada keterangan tugas sekretaris.

Demikianlah Bedah Kisi-Kisi UN Bahasa Indonesia 2015 untuk aspek membaca kebahasaan, untuk aspek berikutnya akan diteruskan pada tulisan berikutnya, insyaAllah.
Bagi yang mau melihat contoh soal TO UN, sila kunjungi blog sayalainnya:

Unsur-unsur Puisi : Unsur Lahir Puisi

Unsur-unsur Puisi
Sebuah puisi dibangun atas dua unsur yakni unsur lahir dan unsur batin. Beberapa ahli menyebut unsur lahir  sebagai metode puisi dan unsur batin sebagai hakikat puisi.


 DOWNLOAD VERSI MICROSOFT WORD : DI SINI

2.3.1   Unsur Lahir (Metode Puisi)
Unsur lahir puisi adalah struktur fisik atau struktur luar dari puisi. Sebagian ahli menyebut unsur lahir sebagai metode puisi. Waluyo (1987: 71) mengartikan metode puisi “Yakni unsur estetik yang membangun struktur luar dari puisi” Tarigan (1984: 28) menyebut unsur-unsur tersebut yakni:
1.      diksi (diction)
2.      imaji (imagery)
3.      kata nyata (the concrete word)
4.      majas (figurative language)
5.      ritme dan rima (rhythm and rime)

2.3.1.1       Diksi (Diction)
Diksi secara harfiah berarti pilihan kata. Ketika kita membaca puisi secara sepintas bisa jadi kita melihat sebagian kata-kata yang digunakan terkesan sama dengan kata-kata yang digunakan oleh masyarakat umum dalam kehidupan sehari-hari.  Namun jika kita kita selisik lebih jauh, ternyata kata-kata tersebut dipilih oleh penyair secara teliti.
Saat menulis puisi penyair memilih kata-kata secara cermat agar kata itu terkonsentrasikan dan terpadatkan maknanya. Penyair juga memilih kata-kata yang puitis sehingga menimbulkan efek keindahan.  Selain aspek makna, hal lain yang mempengaruhi pilihan kata penyair di antaranya latar sosial budaya, suku, pendidikan, agama, jenis kelamin, suasana,  situasi, dan sebagainya.
Waluyo (1987: 73) membahas hal-hal yang menyangkut pilihan kata yakni “Perbendaharaan kata, urutan kata-kata, dan daya sugesti dari kata-kata”
a.       Perbendaharaan kata
Perbendaharaan kata yang dimiliki penyair sangat penting dalam proses kreativitas menulis puisi. Semakin banyak perbendaharaan kata yang dimiliki, semakin kaya dan ekspresif pula puisi yang dihasilkan. Hal yang turut mempengaruhi perbendahraan kata penyair di antaranya adalah kebiasaan membaca. Penyair yang suka membaca tentu memiliki perbendahaan kata yang lebih banyak dari pada penyair yang jarang membaca.
b.      Urutan Kata (word order)
Urutan kata puisi bersifat beku, dalam artian tetap dan tidak bisa dipindah-pindah atau dibolak-balik susunannya. Urutan itu merupakan ciri khas penyair yang membedakannya dengan penyair lain. Hal itu ditegaskan oleh Waluyo (1987: 75) yang menyatakan “Penyair telah memperhitungkan secara matang susunan kata-kata itu. Jika diubah urutannya, maka daya magis kata-kata itu akan hilang.”
Perhatikan puisi karya Ade Batari berikut.

Selasar Zaman
Di selasar zaman tangan tak lagi menengadah. Barat Timur tak pula berbeda sebab matahari lupakan waktu. Seruan Tuhan tak lagi dikumandangkan hingga pagi ke pagi yang silih berganti. Tuhan tak lagi dicari sebab diri dirasa berkendali.
Di selasar zaman, pesolek renta mempercantik diri, pernak-pernik memenuhi lekukan tubuh, gelamor songsong zaman. Poles keriput berbedak menor. Tua jadi simbol kemegahan menua. (Jambi, 18 Agustus 2011).
(“Warna-warni Kehidupan, 2011: 34)
Puisi di atas diawali dengan kata keterangan “di selasar zaman”, baru kemudian subjek “tangan”. Urutan itu beku, tidak boleh dibolak-balik menjadi misal: tangan di selasar zaman tak lagi menengadah. Pembolak-balikan kata akan menghilangkan daya magis dan fokus makna yang hendak disampaikan penyair.


c.       Daya Sugesti Kata-Kata
Penyair memilih kata-kata dengan mempertimbangkan daya sugesti dalam kata-kata tersebut. Waluyo (1987: 77) menerangkan bahwa,
Daya sugesti itu ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat  mewakili perasaan penyair. Karena ketepatan pilihan kata dan ketepatan penempatannya, maka kata-kata itu seolah-olah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah, dan sebagainya.

Perhatikan pengalan bait puisi “Prolog Beringin Tua” karya Bunga Hening Maulidina berikut.
Kian jauh… samar-samar kudengar tangis
Dibelai sekumpulan mega menjelma gerimis
Hujan kian deras mengguyur kabut tipis
Seperti isak dalam hati sang gadis manis

Rabbi…ingin kuusap air matanya dan berpuisi
“Saat kau mengenal patah hati
Saat itulah kau belajar cinta haqiqi”
Sayang sekali…
Aku hanyalah beringin sunyi
Saksi bisu tentang cita cinta dan mimpi
(“Warna-warni Kehidupan, 2011: 32-33)
Larik-larik puisi di atas menampakan perasaan sedih, iba, belas kasih, sang penyair terhadap seorang gadis yang patah hati. Kata-kata penyair mampu mensugesti pembaca untuk ikut merasakan apa yang dirasakan penyair.
2.4.1.2.   Imaji (Daya Bayang)
Unsur lahir puisi selanjutnya adalah imaji (daya bayang). Pengimajian menurut Waluyo (1987: 78) “Adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.” Lebih jauh S. Effendi dalam Waluyo (1987: 80) mengungkapkan bahwa
Pengimajian dalam sajak dapat dijelaskan sebagai usaha penyair untuk menciptakan atau menggugah timbulnya imaji dalam diri pembacanya, sehingga pembaca tergugah untuk menggunakan mata hati untuk melihat benda-benda, warna, dengan telinga hati mendengar bunyi-bunyian, dan dengan perasaan hati kita menyentuh kesejukan dan keindahan benda dan warna.

Menurut Gumiati dan Mariah (2010: 20-23) berdasarkan indra yang digunakan pengimajian dapat dibedakan menjadi enam yakni, citraan pendengaran (auditory imagery), citraan penglihatan (visual imagery), citraan perabaab (tactil/thermal imagery), citraan gerak  (movement imageri atau kinestik imajery), citraan penciuman, dan citraan pencecapan.
a.       Citraan Pendengaran (Auditory Imagery)
Penyair menggunakan kata-kata yang mengandung citraan pendengaran dengan maksud agar pembaca seolah-olah bisa ikut mendengarkan  sesuatu yang ingin diperdengarkan penyair.
Akhirnya Kita ’Kan Kembali PadaNya
Faricha Hasan
Pagi
Aku berjalan di titian embun dini hari
Menapaki setiap inchi bayang mentari
Sayup samar terdengar alunan melodi elegi

(Kepingan Kehidupan #1, 2011: 86)

b.      Citraan Penglihatan (Visual Imagery)
Kata-kata yang mengandung citraan penglihatan membuat pembaca seakan-akan melihat  sesuatu yang bergerak-gerak sehingga objek yang digambarkan penyair dalam puisi tampak jelas di depan mata.
Kembara Masa
Talitha Huriyah
Dalam remang lentera kamar
Pandangan nanar berdebur gemetar
Menyibak lembaran masa dalam kalbu
Patahan pucuk-pucuk asoka di sela mega biru
Ricik kali dendang camar terbang
Tapak-tapak kaki kecil merekah riang
(Kepingan Kehidupan #2, 2011: 32)

c.       Citraan Perabaan (Tactil/thermal imagery)
Penyair dengan menggunakan kata-kata yang mengandung citraan perabaan menggiring pembaca seakan-akan dapat merasakan, menyentuh, dan meraba ketika membaca puisi yang ditulisnya.

Menjemput cahaya-Mu
Daud Al Insyirah
Siang yang terang, membuatku tersesat
Meraba pintu hati yang tersembunyi
Dan menjemput cahaya-Mu di siang ini.
Ya Rabb, jangan biarkan aku tersesat
(Kepingan Kehidupan #2, 2011: 38)

d.      Citraan Gerak (Movement imagery atau Kinetetik imagery)
“Citraan ini menggambarkan sesuatu yang sebetulnya tidak bergerak, tapi digambarkan seolah-olah bergerak” (Gumiati dan Mariah, 2010: 22).
Jejak
Efriany Susanty

Pekik tangis mengangkasa dikala fajar, seketika ruh baru mengabdi
Mengukir jejak dalam  hitungan waktu, merayap, merangkak, berjalan, berlari, berkelana bertemankan langit bersahabatkan bumi
(Kepingan Kehidupan #1, 2011: 67)

e.       Citraan Penciuman
Kata-kata yang digunakan penyair berhubungan dengan indra penciuman sehingga mempengaruhi pemabaca seakan-akan mencium aroma sesuatu.
Awal tangis, akhir tersenyum,
Awal tangis, akhir merana

Asri Bestari Rayawari
Dan dia pulang…
Jiwa yang tenang berpulang
Dan semerbak harum mengiringinya
Tersenyum dalam Ridho Illahi
(Kepingan Kehidupan #1, 2011: 41)

f.       Citra Pencecapan

Kata-kata yang disajikan penyair dalam puisinya membuat pembaca seolah-olah merasakan sesuatu dengan lidahnya, misalnya rasa pahit, manis, asin dan lain sebagainya.
Ayahku, ustadzku
Sarip Hidayat
waktu berlalu
aku dewasa,
ayah di usia senja
Langkahku jauh melaju
Pahit, manis dunia kurasakan
(Kepingan Kehidupan #1, 2011: 81)

2.4.1.3      Kata Nyata (Kata Konkret)
Imaji (daya bayang) pembaca dibangkitkan dengan menggunakan kata-kata yang diperkonkret. Maksudnya menurut Waluyo (1987: 81)  ialah bahwa “Kata-kata itu dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh.”  Tarigan (1984: 33) menjelaskan bahwa “Yang dimaksud kata nyata atau the concreate word adalah kata yang konkret dan khusus, bukan kata yang abstrak dan bersifat umum.”
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata yang dibuat penyair sehingga mampu membangkitkan daya imaji pembaca  terhadap puisi yang diciptakannya.  Kata konkret membuat pembaca dapat membayangkan secara nyata peristiwa, kejadian, atau hal yang dilukiskan penyair.
Contoh, untuk melukiskan suasana setelah kelahiran bayi, Diena Rifaah Amaliah menggunakan kata-kata berikut.
Pada Satu Masa
Diena Rifaah Amaliah
di sebuah titik,
kita selalu saja merasa baru saja mendengar cerita bunda
saat pekik tangis menjadi penanda
lalu ayah menyeka matanya yang berkaca
bersiap mengajarkan sebuah ikrar
layaknya tasbih yang dengan lirih diam-diam terucap dari tiap tetes hujan

hingga hentakan tiap jejak mengingatkan kita
ternyata telah begitu jauh perjalanan dari masa tanpa tanya
berubah dengan resah untuk setiap delik mata, ucap kata, dan hentakan rasa


sebab waktu tak pernah ingkar
pada janji untuk terus membersamai nafas yang berhembus
tersenyum pada mereka yang memaknainya
dan tak peduli pada yang hanya terdiam tanpa satu pun langkah
maka bergeraklah!
(Kepingan Kehidupan #2, 2011: 17)

2.4.1.4      Majas (Bahasa Figuratif)
Cara lain yang digunakan penyair untuk menimbulkan imajinasi adalah dengan memanfaatkan majas (bahasa figuratif). Hal ini dikuatkan oleh pendapat Waluyo (1987: 83) yang menyatakan bahwa “Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismastis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.” Lebih jauh, Waluyo (1987: 83) mengungkapkan bahwa “Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesutau dengan cara yang tidak biasa, yaitu secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.”
Perrine dalam Waluyo (1984: 83) memandang bahwa bahasa figuratif lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair, sebab:
1)      bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif
2)      bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam  puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca
3)      bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair
4)      bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat.


2.4.1.5           Rima dan Ritme (Versifikasi)

Rima dan Ritme berpengaruh besar dalam memperjelas makna sebuah puisi. Rima dan Ritme berkaitan dengan bunyi dalam puisi. Menurut Tarigan (1984: 35) “Ritma atau irama adalah turun-naiknya suara secara teratur, sedangkan rima atau sajak adalah persamaan bunyi.”
a.         Rima
Menurut Waluyo (1987: 90)  “Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi.” Lebih jauh Waluyo (1987: 90) menjelaskan bahwa “Pengulangan bunyi dalam puisi itu untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu jika dibaca.”
Sementara itu Sayuti dalam Gumiati dan Mariah (2010: 34) mengatakan bahwa “Persajakan (rima) adalah kesamaan dan atau kemiripan bunyi tertentu di dalam dua kata atau lebih, baik yang berposisi di akhir kata, maupun pengulangan bunyi yang sama yang disusun pada jarak atau rentangan tertentu secara teratur.”
b.      Ritme
Slamet Muljana dalam Waluyo (1987: 94) menyatakan bahwa “Ritme merupakan pertentangan bunyi: tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan.”
Lebih jauh Gumiati dan Mariah (2010: 35) mengungkapkan bahwa “Ritme sangat berhubungan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritme akan dirasakan bila puisi dibacakan.”

BAHASA INDONESIA

BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuanbangsa Indonesia.Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagaibahasa kerja.

DOWNLOAD VERSI MICROSOFT WORD : KLIK DI SINI



Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang) dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesiasebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu


MAKALAH BAHASA INDONESIA SEBAGAI PEMERSATU DI TENGAH KEBERAGAMAN SUKU BANGSA



KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan karunia_Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu di Tengah Keberagaman Suku Bangsa”. Penyusunan makalah ini untuk melengkapi tugas akhir semester mata kuliah Aplikasi Pendidikan Bahasa Indonesia.
  
DOWNLOAD VERSI BAHASA INDONESIA : KLIK DI SINI


Dewasa ini penggunaan bahasa merupakan sarana untuk melakukan komunikasi secara baik dengan orang lain. Untuk itu, peran bahasa sangat besar pengaruhnya sebagai pemersatu dan juga pemecah belah antar bangsa. Dengan penyusunan makalah ini penulis berusaha menggali arti penting Bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu bangsa di tengah keberagaman suku dan bangsa yang ada di Indonesia.
Dalam penyusunan makalah ini tentunya sangat melelahkan. Namun, karena ada dorongan dan bantuan dari banyak  pihak sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih yang tiada terhingga penulis ucapkan kepada kedua orang tua yang telah memberikan do’a dan dorongan secara moril dan matriil. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada:
1.      Bapak Prof. Ir. H. Sunarpi, P.hD, selaku rektor Universitas Mataram
2.      Bapak Prof. Drs. H. Thatok Asmony, MBA, DBA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Mataram
3.      Ibu Hj. Susi Retna C, SE, M.Si. Ak, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mataram
4.      Bapak Drs. H. Nasaruddin M. Ali, selaku pembimbing mata kuliah Aplikasi Pendidikan Bahasa Indonesia atas segala bimbingan dan motivasi selama membina mata kuliah Aplikasi Pendidikan Bahasa Indonesia.
5.      Ibu Biana Adha Inapty, SE, M.Si, selaku dosen Pembimbing Akademis atas keluangan waktunya.
6.      Rekan-rekan mahasiswa akuntansi semester satu ruang IIIAE6, atas bantuan informasi dan kerjasamanya
7.       Seluruh pihak yang telah membantu tersusunnya makalah ini, namun karena keterbatasan tidak mampu untuk penulis sebutkan satu-satu.
Namun, penulis menyadari akan keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki penulis menyebabkan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran dari Bapak/Ibu, rekan-rekan semua yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.
Akhirnya, semoga apa yang penulis sajikan dalam makalah ini dapat berguna bagi kita semua dan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
                                                                                               Narmada, 1 Januari 2012

                                                                                                                         Penulis




DAFTAR ISI
Halaman Judul....................................................................................................       
Kata Pengantar....................................................................................................       i
Daftar Isi.............................................................................................................     iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................      1
A.    LATAR BELAKANG...........................................................................      1
B.     RUMUSAN MASALAH.......................................................................      2
C.     BATASAN MASALAH........................................................................      3
D.    TUJUAN PENELITIAN........................................................................      3
BAB II KAJIAN PUSTAKA............................................................................      4
BAB III PEMBAHASAN.................................................................................      5
BAB IV PENUTUP...........................................................................................      8
A.    SIMPULAN ..........................................................................................      8
B.     SARAN..................................................................................................      8
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................      9



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi yang sangat pesat dari akhir abad 19 sampai abad 20, bahkan perkembangan yang sangat pesat ini berlanjut pada abad ke 21 seperti yang kita rasakan sekarang ini. Jika kita melihat dari sejarahnya pada abad 18 yang lalu ilmu pengetahuan masih berbasis pada industrialisasi dan revolusi pada bidang industry dan pertanian, dimana moderinasi pada abad tersebut masih berbasis pada perubahan dan perkembangan pada alat-alat pertanian.
Sehingga perkembangan tersebut tidak bisa di rasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di semua belahan dunia, revolusi ini masih terbatas pada beberapa Negara yang mengalami revolusi industri tersebut. Negara-negara tersebut antara lain : Inggris, Prancis dan Amerika Serikat. Namun, yang terjadi pada akhir abad ke 19 adalah terjadinya revolusi besar-besaran di segala bidang kehidupan ketika mulai di kenalnya alat bantu komunikasi. Perkembangan alat bantu komunikasi sampai dengan hari ini dapat menjadi manfaat yang luar biasa bagi kita dan dapat juga menjadi ancaman yang paling utama.
Hal utama yang dapat menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat tersebut di sebabkan oleh perkembangan komunikasi yang tiada lain maknanya adalah perkembangan terhadap bahasa. Dengan bahasa perdagangan dapat dilakukan, dengan bahasa juga membuat hubungan antar Negara menjadi lebih baik.
“Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain.” Ferdinand De Saussure

Kalau kita melihat secara spesifik lagi di Negara kita, sadar ataupun tidak sadar Negara kita adalah Negara yang sangat kaya akan bahasa, variasi bahasa daerah yang digunakan dapat di lihat di setiap provinsi, contohnya saja antara Jawa Barat dengan DKI Jakarta dimana satu daerah tersebut menggunakan bahasa sunda dan satunya menggunakan bahasa betawi, yang lebih kaya lagi jika kita melihat di provinsi kita Nusa Tenggara Barat, disini setidaknya ada 3 suku besar yaitu sasak, sawama dan mbojo. Namun, ketiga suku tersebut tingkatan dan jenis bahasa yang digunakan sangat beragam. Sehingga ketika seseorang hanya mampu menggunakan bahasa sasak dalam pergaulan sehari-hari tidak akan pernah mengerti jika di datang ke suatu tempat yang juga menggunakan bahasa sasak, namun dengan logat yang berbeda.
Oleh karena itu, diperlukan suatu bahasa persatuan yang dapat di mengerti oleh setiap lapisan masyarakat, suku bangsa, dan adat. Sehingga variasi bahasa yang kita miliki tetap lestari yang di naungi oleh bahasa persatuan tersebut. Ini sebagaimana di kemukakan oleh salah seorang ahli tentang arti bahasa
“Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu” William A. Haviland
Dengan adanya bahasa persatuan ini akan membuat persatuan yang lebih erat di antara setiap suku di tengah ke-bhinekaan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa  hal yang mempengaruhi orang menggunakan bahasa?
2.      Bagaimana ciri dari bahasa persatuan?
3.      Bagaimana cara mewujudkan bahasa persatuan?
4.      Apakah dalam setiap variasi bahasa memiliki persamaan?



C.    Batasan Masalah
1.      Hal-hal yang mempengaruhi terbatas pada daerah yang ada di Lombok yang meliputi aspek kultur masyarakat; dan pengaruh budaya.
2.      Hanya melihat dari sisi penggunaan unsur serapan bahasa daerah terhadap Bahasa Indonesia
3.      Ciri pengwujudan bahasa secara umum
4.      Persamaan dalam mengucapkan beberapa kata

D.    Tujuan Peneliatian
1.      Tujuan Umum
Melihat peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus sebagai identitas nasional bangsa.
2.      Tujuan Khusus
a. Melihat peran Bahasa Indonesia di tengah keberagaman suku yang ada di pulau Lombok
b.Melihat peran bahasa Indonesia dalam memudahkan komunikasi dengan masyarakat dengan variasi bahasa daerah yang berbeda.
c. Melihat kemudahan komunikasi yang terjalin setelah menggunakan bahasa Indonesia.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Seperti kita ketahui bersama cakupan ilmu tentang bahasa sangat luas sekali, mulai dari penggunaan kata, sampai dengan “ilmu bahasa” yang lazim di sebut lingustik (Matthews 1997).
Linguistik adalah ilmu yang menelaah keuniver salah bahasa atau telaah tentang asas-asas umum yang berlaku pada bahasa secara universal. Salah satu prinsip dasar linguistik adalah bahasa adalah vocal, dimana hanya ujaran sajalah yang mengandung segala tanda utama suatu bahasa. Linguistik ini sendiri memiliki banyak sekali cabang-cabang antara lain: Morfologi; sintaksis; Fonologi dan masih banyak lagi cabang yang lain. Salah satu cabang linguistik tersebut adalah Fonologi.
Fonologi adalah cabang linguistik yang salah satunya mempelajari seluk beluk suku kata. Suku kata bisa dihitung dengan melihat jumlah bunyi vokal yang ada dalam kata itu. Suku kata jika bergabung maka akan membentuk kata yang nantinya memiliki makna sendiri, sehingga sempurnalah sebuah bahasa itu.
Dalam makalah-makalah sebelum banyak sekali yang berbicara tentang linguistic antara lain; Iput Rahayu Ningsih dalam makalahnya yang berjudul linguistik umum; makalah dengan judul yang sama juga di tulis oleh Wiwin Windayanti; dan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa dalam bingkai multikultularisme yang ditulis oleh Asep Muhyidin.
Ketiga makalah di atas penulis jadikan refrensi dalam pembuatan makalah ini. Namun, karena cakupan makalah yang penulis buat lebih kecil, maka dalam makalah-makalah sebelumnya penulis hanya mengambil beberapa bagian saja. Batasan-batasan yang penulis ambil untuk dipergunakan dalam pembuatan makalah ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan ucapan “Fonologi” dan keterkaitannya Bahasa Indonesia yang dalam fungsi sebagai bahasa persatuan.

BAB III
PEMBAHASAN
Bahasa merupakan alat komunikasi yang di gunakan oleh manusia sejak zaman pra sejarah. Bahasa ini secara umum dapat kita bagi menjadi 3 yaitu: bahasa lisan, bahasa tulisan, dan bahasa tubuh (gesture, mimik,dll.). Pada awal perkembangannya penggunaan bahasa hanya terbatas pada gerak tubuh, kemudian bergerak menuju tulisan dengan menggunakan simbol-simbol sampai pada akhirnya karena pengaruh tulisan dan gerak tubuh tersebut terbentuklah suatu ucapan yang menjadi kesepakatan bersama mereka sehingga menimbulkan bahasa lisan.
Bahasa dewasa ini memegang peranan penting dalam mempersatukan masyarakat, karena seperti yang telah di jelaskan di atas, proses pembentukan bahasa lisan merupakan hasil kesepakatan penyebutan oleh sebagian orang yang belum tentu dimengerti oleh sebagian orang yang lain di luar kelompok mereka tersebut. Bahkan bisa jadi penamaan mereka terhadap suatu benda yang sama dapat berbeda karena proses terbentuknya seperti yang di sebutkan di atas. Hasil dari proses pembentukan bahasa lisan (ucapan terhadap suatu benda) yang di berikan oleh nenek moyang kita ataupun yang di pengaruhi oleh faktor-faktor lain sangat nyata adanya sekarang dan dapat kita buktikan dengan penggunaan bahasa daerahnya masing-masing wilayah.
Penelitian kepustakaan dari aspek kebahasaan yang dilakukan oleh penulis di wilayah Lombok saja sedikitnya ada 4 macam bahasa lisan (dialek) yaitu : dialek selaparang, dialek pujut, dialek bayan dan dialek pejanggik. Yang masing-masing dialek tersebut dalam penyebutan satu benda yang sama pun dapat berbeda. Kekayaan bahasa ini tidak hanya sebatas pada lintas dialek saja, namun persebaran bahasa yang sangat beragam ini juga di pengaruhi oleh faktor lain seperti daerah asal suatu masyarakat. Sebagai contoh jika di wilayah Narmada dan sekitarnya menggunkan dialek selaparang. Namun, jika ada wilayah yang ada di Narmada, namun garis keturunan nenek moyangnya berasal dari rumpun dialek yang berbeda maka penggunaan bahasanya juga akan berbeda.
Sebagai contoh nyata yang penulis lakukan penelitian di daerah penulis sendiri yaitu di wilayah Lembuak. Desa Lembuak memiliki terdiri atas lima dusun yaitu: Lembuak Timur, Lembuak Barat, Lembuak Kebon, Lembuak Mekar Indah, dan Telage Ngembeng Dasan. Keempat rumpun Lembuak tersebut (Timur, Barat, Kebon, dan MI) merupakan satu rumpun karena dari garis keturunan yang sama, namun dengan Telage Ngembeng Dasan yang notabenenya garis rumpunnya berbeda maka penggunaan bahasa daerah juga sangat berbeda sekali.
Contoh penyebutan ini dapat di lihat di tabel
Kata yang di  maksud
Penyebutan Orang Lembuak
Penyebutan Orang Telage Ngembeng
TIMUR
TIMUK
BONGKOT

Perbedaan ini juga terjadi ketika kita membandingkannya dengan desa yang berbatasan langsung dengan Lembuak di sebelah selatan yaitu desa Batu Kute dan Tanak Beak. Dari logat bicara dan kata-katanya banyak sekali terjadi perbedaan. Sehingga dari beberapa fakta di atas penulis mengambil sebuah hipotesis jika yang di satu desa saja ada banyak rumpun bahasa bagaimana dengan di satu wilayah? Pasti akan lebih banyak lagi variasi bahasa tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu bahasa yang dapat di pahami bersama oleh masyarakat dari segala lapisan masyarakat dan Bahasa Indonesia lah jawabnnya.
Bahasa Indonesia dari segi fonologi setiap masyarakat tidak ada kesulitan untuk mengucapkan dan dimengerti karena dari hasil kajian seperti yang dilakukan penulis pada tabel di atas, banyak kata dari Bahasa Indonesia di daerahkan. Sebagai contoh kata “Timur” dalam bahasa Indonesia dalam bahasa Lembuaknya di sebut “Timuk” yang di sesuaikan dengan lidah orang Lembuak itu sendiri. Begitu juga dengan kata-kata yang lain, jadi relatif orang akan cepat mengerti ketika belajar bahasa Indonesia.
Namun, penggunaan Bahasa Indonesia ini tetap mempertahankan kearifan budaya dan bahasa lokal yang ada di masing-masing daerah. Bahasa Indonesia digunakan untuk berkomunikasi secara nasional dengan seluruh masyarakat Indonesia, adapun ketika suatu kelompok masyarakat berbicara dengan kelompoknya dapat menggunakan bahasa daerah. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pergaulan secara nasional secara langsung dan tidak langsung dapat membuat persatuan kita semakin kuat. Karena dewasa ini bahasa merupakan suatu yang menjadi pertanda identitas nasional.
Oleh karena itu, pemerintah melalui banyak sekali programnya memperkenalkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pergaulan sehari-hari. Program ini membutuhkan bantuan dari kita semua agar apa yang kita niatkan agar Bahasa Indonesia dapat menjadi pemersatu bangsa dapat kita wujudkan. Yang berarti masyarakat kita akan bangga ketika mereka menggunakan Bahasa Indonesia dalam pergaualan sehari-hari.
Pelajar dan mahsiswa yang melanjutkan pendidikan di luar negeri akan dengan bangga memperkenalkan Bahasa Indonesia kepada rekan-rekannya dari Negara lain. Dampak lain adalah masyarakat kita tidak akan terprovokasi oleh oknum-oknum yang mengambil kepentingan dari ketidakmengertian masyarakat kita akan Bahasa Indonesia. Ini juga berarti persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara ini akan semakin baik yang sekali lagi disebabkan oleh kemampuan kita menggunakan Bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari.




BAB IV
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa yang dapat mewadahi kebhinekaan yang ada di wilayah Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pergaulan dan komunikasi secara nasional akan membuat persatuan dan kesatuan bangsa semakin terjaga dan jauh dari konflik horizontal yang disebabkan oleh kesalahpahaman dalam berbahasa.
B.     SARAN
1.      Pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat benar-benar menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pergaulan dan juga dalam berkomunikasi.
2.      Masyarakat khususnya pelajar dan mahasiswa juga ikut mendukung secara aktif dengan cara menggunakan Bahasa Indonesia dalam pergaulan di sekolah maupun di kampus.
3.      Kearifan bahasa lokal juga tetap di pertahankan dalam wadah persatuan yang dilakukan dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.



DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Keraf, Gorys; 1981. Tata Bahasa Indonesia. Ende – Flores : Nusa Indah
Masinambouw, E.K.M. ( ED ); 1980. Kata Majemuk – Beberapa Sumbangan Pikiran  FSUL.
Parera, Jos Daniel; 1977a. Pengantar Linguistik Umum. Seri A. Kisah zaman : Ende – Flores : Nusa indah.
Pateda, Mansoer; 1981. Pengantar ke Bahasa Indonesia. Gorontalo : Viladan.
Pateda, Mansoer; 1981b. Babatan Fonologi. Gorontalo : Viladan.
Ramlan, M.; 1967. Ilmu Bahasa Indonesia – Morfologi. Yogyakarta : UP. Indonesia.
Rusyana, Yus dan Samsuri; 1976. Pedoman Penulisan Tatabahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Bahasa.
Samsuri; 1978. Analisa Bahasa. Jakarta : Erlangga.
Sulaiman, Syaf E; 1873. Pengantar Linguistik. Yogyakarta : Yayasan IKIP Yogyakarta.
Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai. 2002. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV
Diponegoro.

Pusat Pengembangan Bahasa. 2004. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Samsuri. 1983. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga

luvne.com tipscantiknya.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com